Promosi Wisata Sungai Penuh – Kerinci tidak Sesuai Kenyataan

Sungai Penuh– Sejumlah promosi wisata yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jambi (Sungai Penuh – Kerinci) banyak yang tidak sesuai kenyataan di lapangan (di objek wisata) sehingga hal ini akan berdampak buruk terhadap pencitraan daerah ini.

Sebagai contoh, Sungai Penuh – Kerinci dipromosikan dengan masyarakatnya yang ramah terhadap tamu (wisatawan, red), tapi nyatanya di objek wisata keramahtamahan masih jauh dari yang disampaikan dalam promosi.

Bagaimana bisa dikatakan ramah, jika di objek wisata masih ada praktik premanisme (pemaksaan pada pengunjung).

Kemudian para wisatawaan dimintai membayar tiket, tapi berbagai fasilitas bagi mereka justru tidak ada di objek wisata. Belum lagi soal tiket masuk yang kadang dimintai lebih dari satu kali kepada pengunjung dan lagi sepertinya biaya parkir lebih besar lagi dari biaya tiket masuk ke objek wisata, sehingga membuat para wistawan mengeluh dan kecewa. Kebanyakan masyarakat Kerinci yang tinggal di luar daerah yang pulang kampung ingin juga menikmati suasana wisata di Kerinci tetapi mereka kebanyakan memilih dimana lokasi yang kira-kira tidak harus membayar (gratis).

Contoh lainnya, dalam promosi wisata banyak ditampilkan atraksi budaya seperti tarian khas Kerinci, namun saat wisatawan datang ke daerah itu atraksi tersebut justru sulit kita temukan.

Menurut saya itu baru sebagai contoh buruk yang nyata di obyek wisata Sungai Penuh – Kerinci, tapi dalam promosi selalu disampaikan hal-hal yang terbaik untuk menarik wisatawan.

Promosi yang tidak sesuai kenyataan ini akan membuat wisatawan merasa tertipu dan hal ini jelas akan merugikan bagi Sungai Penuh – Kerinci secara lebih luas.

“Orang akan enggan datang berwisata ke Sungai Penuh – Kerinci dan akan menyebabkan kerugian besar bagi daerah ini, apalagi Sungai Penuh – Kerinci.

Lebih baik Sungai Penuh – Kerinci melakukan pembenahan menyeluruh di sektor pariwisatannya sebelum melakukan promosi ke luar daerah apalagi ke luar negeri. “Kini prioritas dulu di objek wisata, tingkatkan upaya sosialisasi kepada semua pihak terkait pariwisata, terutama masyarakat di kawasan wisata”. Termasuk pemerintah daerah harus mampu menunjukkan sikap ramah terlebih dahulu, baru mengundang wisatawan datang berkunjung.

“Tanpa adanya pembenahan dan hanya melakukan promosi dengan dana besar, maka pariwisata Sungai Penuh – Kerinci justru akan mengalami kerugian”. (Chandra Purnama Gusti)