ORANG PENDEK TERANCAM KEHILANGAN RUMAHNYA

Kalau mendengar kata daerah Kerinci yang kaya akan legenda dan mitos serta daerah nya yang terkenal dengan sebutan  Sakti Alam Kerinci, ada satu yang masih menjadi misteri sampai saat sekarang ini. Legenda itu adalah Orang Pendek atau yang lebih dikenal dengan sebutan Uhang Pandak, Kaki Terbalik. 
 
Orang Pendek adalah makhluk Criptozoology yang menurut informasi hidup tersebar di beberapa wilayah Sumatra, seperti Bengkulu, Palembang, Jambi dan  Sumatra Barat. Yang wujudnya menyerupai seperti kera tetapi berjalan tegak seperti manusia berdasarkan apa yang telah di tuturkan oleh para saksi mata yang telah melihat Orang Pendek secara langsung.

Menurut penuturan beberapa saksi mata yang mengaku pernah melihat orang pendek, Orang Pendek itu adalah sejenis primata yang berjalan seperti manusia (Ape Bipedal). Tinggi makhluk ini kurang lebih 80-100 cm, berbulu hitam, abu-abu dan agak kekuningan.
Jika makhluk ini dikatakan mitos atau legenda, kenapa sampai sekarang masih juga ada penampakan yang banyak di saksikan oleh masyarakat lokal? Bahkan beberapa peneliti luar negeri dan lokal berhasil menemukan cetakan kaki Orang Pendek dan beberapa sample rambut di beberapa hutan di Kerinci.
Seperti ekspedisi yang dilakukan oleh Adam Davies dkk, mereka berhasil mengemukan sampel rambut, ketika dilakukan tes DNA, menunjukkan bahwa DNA yang setengah manusia dan setengah lagi merupakan DNA primata yang belum teridentifikasi. Seghingga masih menyimpan banyak tanda Tanya didunia penelitian.
Misalnya Hutan Danau Gunung 7, yang terletak di Desa Ulu Jernih, Pelompek, Kec. Danau Gunung 7. Areal ini menjadi sebuah tempat yang bagus untuk melakukan pencarian orang pendek, karena banyak juga masyarakat beranggapan bahwa Gunung 7 merupakan rumah bagi orang pendek itu sendiri, walaupun masih banyak lokasi penampakan orang pendek dihutan lainnya.
Banyak juga saksi mata melihat sosok makhluk ini  di areal perladangan mereka, apa mungkin Komunitas Orang Pendek ini telah kehilangan tempat tinggalnya di hutan yang selama ini di huni oleh komunitas Orang Pendek?
Bahkan Orang Pendek pun sudah berani masuk ke dalam pondok di areal perladangan warga untuk mengambil sesuatu di pondok penduduk itu sendiri. Menurut penuturan Pak Syafrudin, yang mengaku melihat Orang Pendek itu masuk kedalam pondoknya untuk mengambil gula, padahal ladangnya hanya berada di kaki hutan, dia pun tidak habis piker kenapa Orang Pendek sudah berani memasuki areal perladangan yang sudah banyak dihuni oleh masyarakat?
Padahal waktu dulu, setiap orang yang mengaku melihat orang pendek, selalu lokasinya di hutan. Pada waktu saksi mata mencari sesuatu di hutan yang sangat jauh, misalnya mencari ikan, ataupun menjerat burung sampai berburu rusa.

Mungkin ini adalah salah satu bentuk dari hasil praktek illegal logging merajalela di daerah ini serta pembukaan lahan baru bagi masyarakat sekitar, sehingga tempat berdiamnya makhluk ini sangat sempit sekali ruang lingkupnya untuk saat yang membuat komunitas Orang Pendek ini kesulitan untuk mencari makanan di hutan yang biasa dihuninya.
Bahkan setengah dari hutan pun telah dijadikan sebagai areal perladangan dari masyarakat sekitar. Walaupun sudah ada larangan dari Petugas yang berwenang, tetapi masyarakat tetap saja tidak peduli, dan terus melakukan pembukaan lahan baru, dengan dalih, hutan ini adalah milik nenek moyang kami dan kami berhak melakukan apapun terhadap hutan ini.
Jika praktek ini tetap dilakukan bisa jadi areal perladangan sampai ke hutan inti, dan akan mengganggu ekosistem hutan itu sendiri. Karena belum ada tindakan tegas untuk praktek ini sehingga membuat masyarakat tidak takut untuk melakukannya.