Ekspedisi Bukit 12 (Suku Anak Dalam dan Orang Pendek)

Berkunjung ke Taman Nasional Bukit 12 Bangko, bukan yang pertama kalinya bagi saya dan kerabat, pertama kali mengunjungi Taman Nasional Bukit 12 pada tahun 2009, awalnya saya sangat tertarik dengan cerita tentang kebudayaan mereka, tatanan kehidupan, asal usul, kearifan lokal, serta masih banyak lagi yang menarik untuk dipelajari di Komunitas Suku Anak Dalam ini. Berangkat dari itulah saya mengunjungi Taman Nasional Bukit 12.

Saya dan Asep (Kerabat Ekspedisi)

Pada awalnya itu, saya mendengar cerita menarik tentang salah satu hewan crytid, yang membuat saya ingin mempelajari lebih tentang ilmu kajian Cryptozoology hingga saat ini. Karena menurut pandangan saya pribadi, ilmu Cryptozoology banyak kaitannya dengan ilmu lain yang membuat ilmu kajian ini sangat menarik untuk dipelajari.

Pertama kali kami menemui Tumenggung Tarib, yang waktu itu masih menjadi Tumenggung di salah satu komunitas Suku Anak Dalam, kami mendapat cukup banyak informasi dari hasil bincang-bincang singkat dengan beliau. Menurut penuturan beliau, mereka berasal dari Sumatra Barat yang lari waktu  masa penjajahan Belanda. Sampai sekarang mereka masih menetap dan melangsungkan hidup di Hutan belantara di Bukit Dua Belas. Walaupun masih banyak versi yang lainnya. Bahkan menurut pengakuan Tumenggung Tarib, kuburan nenek moyang nya pun berada di Sumatra Barat, sayang beliau tidak tau persis dimana daerahnya.

Tumenggung Menunjukan ilustrasi tapak yang di lihat di tanah waktu melihat Hanti Lipai

Kembali ke hewan cryptid, Tumenggung Tarib menyebutkan bahwa mereka mengetahui cerita tentang hantu rimba yang berada di dalam hutan, tidak dengan nama Orang Pendek, tetapi dengan nama Hantu Lipai. Cerita ini juga turun menurun dituturkan oleh Suku Anak Dalam walaupun banyak juga yang pernah bertemu langsung dengan hantu ini. Menurut Suku Anak Dalam, Hantu ini sangat kuat sekali sehingga mereka sangat takut dengan hantu lipai ini. Pak Tumenggung juga menggambarkan bahwa hantu ini bertumbuh pendek, dan berjalan tegak seperti manusia kebanyakan.

Menurut  McHugh, para hantu hutan adalah beberapa varietas tertua hantu Melayu, dan banyak dari mereka diyakini memiliki asal-usul manusia (McHugh 1959). Orang Rimba percaya bahwa setidaknya ada beberapa hantu, seperti jiwa terganggu orang mati yang berasal dari manusia; Namun, kebanyakan orang tidak jelas dalam pengetahuan mereka tentang asal usul mereka. Semua varietas hutan, dan beberapa mirip dengan yang dijelaskan di Malaysia. Mirip dengan orang lain di seluruh wilayah, yang hantu tenggi dikatakan mengambil bentuk pohon mengerikan, dengan taring menonjol tajam, kuku panjang dan rambut hitam panjang yang menggantung dari tubuhnya (McHugh 1959). Karena tingginya menjulang, mereka sering dikatakan hidup di hutan primer yang terletak jauh dari setiap kamp.