Melaka, I am in Love (Part 4) Anda Bukan Islam, Kenapa Berhenti?

Melaka, I am in Love (Part 4) Anda Bukan Islam, Kenapa Berhenti?

Anda bukan Islam, Kenapa Berhenti? Sebuah pertanyaan yang saya lontarkarkan kepada para pengunjung di sekitar arena MAP (Melaka Art and Performance) Festival.

Ya, pertanyaan itu saya tanya kepada salah seorang pengunjung dari luar Melaka,dan saya sangat yakin dia bukan Islam, ketika azan mengumandang di sela-sela kegiatan mereka mengunjungi tempat wisata khususnya Famosa, yang berhenti itu juga bukan dari pengunjung saja bahkan artis lokal pun yang mengamen di sekitaran lokasi.

Berhenti disini bukannya berhenti berjalan atau apa lah, mereka berhenti sejenak, paling tidak mengecilkan suara mereka, dan artis secara otomatis berhenti memainkan alat musiknya.

Mereka menjawab, kita menghargai agama lain yang ingin beribadah dan tidak ingin mengganggu, Padahal suara azan itu jauh dari famosa, tanya ku kembali, mereka menjawab, walaupun jauh paling tidak kami menghormati Agama Islam, tidak ada salahnya kami menghentikan sejenak aktifitas sembari duduk dan diam sejenak. Betul kan?

Sangat betul sekali, kenapa ya mereka yang lebih patuh dan taat dengan suara azan? (sambil mengingatkan diri sendiri), dan koreksi diri kita masing-masing, ketika azan berkumandanga kita ngapain y? Ya tanya ke diri sendiri hehe. Jangankan mengejar suara azan tersebut, untuk diam sejenak pun kita tidak mau, hehehe,

Ketika azan berkumandang, hendaklah kita diam sejenak, jangan berbaring-baring, yang lebih bagus lagi jika kita langsung mengejar masjid untuk menunaikan shalat. Hmmm. (semoga saya juga bisa).

Satu pelajaran yang sangat berharga adalah intinya kita saling hormat menghormati, mempersilahkan agama lain untuk beribadah, jika tidak membantu atau ikut, minimal kita tidak mengganggu atau membuat keributan, sesungguhnya hidup di dalam perbedaan itu indah adanya, memang perbedaan tidak bisa bersatu, tapi yakin lah bisa hidup berdampingan.

Lihat saja salad buah, mereka tidak melebur, tetapi menjadi satu kelompok pada satu tempat yang akhirnya dinamakan salad, bahkan kita pun masih bisa melihat Apel, anggur, kiwi, mangga dan apa saja yang ada di dalam semangkok salad itu, walaupun demikian rasanya pun tetap lezat. Begitu pun kita Indonesia sebenarnya adalah terdiri dari banyak suku, bangsa dan agama yang terangkum di dalam Bhineka Tunggal Ika.

Unity in Diversity

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *