Rafflesia Gadutensis, Sebuah Pesona Lain dari Hutan Sako

November 3, 2020

Tidak ada alasan untuk tidak mengunjungi Sako, Sako salah satu daerah di ujung Sumatra Barat yang berbatasan dengan Provinsi Jambi. Selain pesona alam yang masih sejuk dimata untuk disaksikan, Sako juga memiliki lingkungan yang asri, kearifan lokal, hutan Sako yang masih menawarkan sejuta pesona, air terjun, nyanyian binatang masih terdengar di hutan ini, yang tidak kalah pentingnya adalah sudah tumbunya Padma kebanggan Sumatra Barat di lokasi ini, Rafflesia Gadutensis.

Bahkan di daerah Sako sendiri juga sudah mulai berkembang wisata buatan yang ramah lingkungan, ini memang cita-cita dari segenap masyarakat yang ada di sana, katakanlah wisata air yang menggunakan tubbing, bahkan dulu sudah ada kelompok Arum Jeram dari Kota Sungai Penuh menajajal Sungai di Sako ini. Hal ini dilakukan oleh pemuda Sako karena mereka sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan agar tetap asri karena mereka juga takut jika daerah ini rusak akibat tangan oknum yang tidak bertanggung jawab demi keuntungan pribadi, salah satunya yang secara frontal di lakukan adalah illegal logging, syukurlah sekarang sudah mulai berkurang terjadinya praktek ini, semoga saja praktek ini tidak berjalan lagi untuk masa yang akan datang.

Karena sayang jika praktek illegal logging ini tetap dilakukukan tidak menutup kemungkinan beberapa penghuni hutan akan terganggu habitatnya hingga mencari tempat lain untuk kehidupan baru. Sebut saja Sang Enggang (Rangkong) salah satu burung kebanggaan yang identik dengan kesetian, ketika pasangannya mati entah itu diburu atau karena alasan lain, enggang yang satu tidak akan kawin lagi, coba bayangkan kalau kita memburu atau membunuh satu enggang,? Ironis memang. Tapi apa hendak di kata kita tidak bisa berbuat banyak selain kampanye tentang keramahan lingkungan dan mulai dari diri sendiri untuk kegiatan tersebut, syukur-syukur pihak lain tertarik juga dengan kampanye kita.

Sama halnya dengan yang telah dilakukan pemuda di sana, yang saya kenal Egi Masro, dia terus mengkampanyekan tentang sadar lingkungan, tanpa bosan kepada masyarakat dan mempromosikan Sako tentunya dengan kegiatan – kegiatan yang bermamfaat, apapun yang Sako miliki dia share terus agar orang terpancing untuk memulai mencintai lingkungan walaupun awalnya dia sempat putus asa karena hinaan dan cacian oleh segelintir orang yang mungkin saja kegiatannya di hutan Sako merasa terancam. Bahkan mereka pun sekarang sudah memetik buah dari hasil kerja keras dengan ada perhatian Pemerintah melalui Taman Nasional Kerinci Seblat, menggelontorkan dana bantuan untuk usaha sewa peralatan wisata alam sebesar Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah).

“Ya, saya sebagai pemuda yang berasal dari Sako, tentunya tidak ingin kampung yang sangat asri dan ramah ini dikotori oleh tangan-tangan oknum yang tidak bertanggung jawab salah satunya adalah melakukan aktifitas illegal logging, apa tunggu Sako ini longsor baru berhenti? untuk itu Saya beraharap agar semua pihak ikut membantu dalam kampanye ini”

Egi juga sekarang yang menjadi Wakil Ketua dari Pokdawis (Kelompok Sadar Wisata) Sako Rancak gencar melakukan promosi wisata yang ada di Sako, tentunya kalau ingin berwisata disini sangat bagus sekali, kenapa? Karena daerah ini masih sepi dari pengunjung karena kurangnya informasi yang di akses keluar dan susah jalur komunikasi untuk daerah ini, pemuda seperti Egi pun harus menuju daerah Tapan agar mendapat sinyal ketika untuk mengupload beberapa photo keindahan dari Sako agar orang bisa mengetahuinya. Baru – baru ini, Egi dan beberapa temannya menemukan bunga langka yang berasal dari Sumatra Barat, yaitu bunga Rafflesia Gadutensis.

Iya, benar sekali, Bunga Rafflesia Gadutensis ini memang bunga langka yang hanya tumbuh di wilayah Sumatra Barat, menurut Yuliza Rahma, seorang peneliti rafflesia dari Universitas Andalas Padang, Rafflesia gadutensis, pertama kali ditemukan oleh W. Meijer pada tahun 1984 di kawasan Ulu Gadut, Padang Sumatera Barat. Bunga yang mempunyai nama lokal disebut dengan nama cindawan harimau ini secara tampilan fisik sangat berbeda dengan bunga Rafflesia yang lain walalupun beberapa sumber juga mengatakan bahwa bunga cantik nan langka ini juga di tumbuh di daerah Bengkulu. Sekilas bunga ini tampak sama dengan Rafflesia Arnoldi. Kalau diperhatikan dengan seksama ada beberapa perbedaan, terutama dari ukurannya yang rata – rata memiliki diameter 40-50 cm serta corak putih yang terdapat di bunga tersebut.

Egi pun mengisakhkan kepada saya tentang perjalannya menemukan Bunga Rafflesia Gadutensis ini beberapa waktu lalu, dengan harapan agar ada juga orang mengetahuinya. Awalnya Egi dan beberapa temannya hanya sekedar jalan di hutan sambil menikmati keindahan hutan belantara yg ada di sekitar kampung Muara Sako, untuk melihat aktifitas beberapa hewan seperti burung, kera, babi gunung dll, karena sangat banyak jenis binatang, tapi didalam perjalanan ini Egi dan teman-temannya terkejut sembari terpukau dengan salah satu jenis bunga yaitu bunga Rafflesia Gadutensis. Karna si bunga langka sangat jarang di temui dan bisa di bilang langka,di hutan Sako Egi menyaksikan secara langsung bunga Rafflesia Gadutensis ini, aksesnya pun tidak terlalu jauh dari perkampungan Muaro Sako hanya skitar 45menit, dan tracknya pun tidak terlalu sulit untuk di tempuh, Egipun menyarankan supaya perjalananya lebih menantang kita bisa bikin camp dan nginap di tengah hutan Sako.Karena masih bnyak lagi keindahan yang lainnya belum terjamah oleh umum. Bahkan beberapa waktu yang lalu pun Egi dan teman-temannya pun sempat mengabadikan bunga Amophopallus yang terdapat di dalam hutan Sako.

Nah, bagi para pembaca yang baik, bagaimana kita membuat sebuah alasan untuk tidak mengunjungi daerah Sako untuk melakukan hiking, camping, air terjun serta melihat kearifan lokal yang ditawarkan oleh masyarakar sekitar? Yang mungkin bisa menjadi sebuah pengalaman yang menarik di dalam perjalanan kita. Ayo kita list Sako sebagai salah satu daerah yang harus dikungjungi walaupun kalian ingin menempatkan Sako ini di list paling bawah.

Saya sangat menyarakan bagi para pencinta camping yang tidak ramai dikunjugi orang, bisa jadi untuk bagi pencari camping dengan suasana ketenangan, private dan lain sebagainya. Saya sendiri pun pernah menempatkan Sako di dalam pencarian hewan Cryptozoology saya, walaupun hasilnya tidak sesuai dengan harapan, paling tidak saya bisa menikmati kearifan warga lokal yang masih ramah dengan menjaga norma-norma yang berlaku.

Bagaimana? Yuk ke Sako. Siapkan peralatan kalian, kunjungi Sako.

Baca juga Makhluk Misterius dari Ardennes

Leave a Reply:

Your email address will not be published. Required fields are marked *