“Gong Buleuh” Antara Cita, Cinta dan Harapan

“Gong Buleuh” Antara Cita, Cinta dan Harapan

Pada postingan saya sebelumnya, saya menceritakan tentang kunjungan ke Melaka tahun lalu, dan saya pun sudah berjanji untuk menceritakan tentang Tim dari Jambi ke Melaka, nah, janji itu akan saya tepatkan, karena saya bukan Orang Politik, yang kebanyakan oknumnya lupa akan janji. Ada sih plesetan tentang, perbedaan Pilkada dan Pilkabe, Pilkabe : Kalau lupa pasti jadi, kalau Pilkada kalau jadi pasti lupa, hahaha. Semoga saja pemimpin kita tidak seperti ini yang lupa akan janji-janjinya, karena semua masyarakat bertumpu kepada kebijakan-kebijkan pemerintah.

Gong Buleuh Alam Sakti?
Gong Buleuh Alam Sakti merupakan sebuah komunitas seni yang berada di Sungai Penuh, di dalam komunitas ini ada banyak yang berlatar belakang berbeda, walaupun lebih dikedepankan Seninya, sebut saja photography, dan penulis. Tetapi di komunitas ini mempunya satu visi untuk membawa dan mempromosikan kesenian daerah agar lebih dikenal lagi di luar sana, tidak menutup kemungkinan akan membuat sebuah gebrakan baru kedepannya, Ya semoga saja apa yang kami cita-citakan kedepannya, mendapat dukungan dari Tuhan Yang Maha Esa, serta pihak terkait.  Nah, kalau kalian ingin mengetahui Basecampnya, cukup datang saja ke Teras Festival, silahkan saja tanya-tanya di sana, tentang komunitas ini.

Cita dan Cinta?
Kami mempunyai cita-cita untuk memperkenalkan budaya dan tradisi yang ada di daerah ini, agar lebih dikenal, apapun itu caranya, walaupun mendapat dukungan yang tidak banyak dari berbagai pihak, kami tetap tujuan awal kami. Toh, kami tetap berpikir positif dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu, kami pun tidak memposting apapun tentang penolakan dari berbagai pihak untuk menampilkan kesenian ini, hmmm. Sulit sebenarnya, tetapi karena Cita yang kami kedepankan, serta Cinta kepada Tanah ini, dimana tempat kami lahir dan menumpang hidup sementara, Cita dan Cinta menjadi satu, yang membuat kami semua kuat untuk melanjutkan perjuangan ke sebuah acara seni yang bertajuk Melaka Art and Perfomance Festival di Malaysia, Kami pun tetap berterima kasih kepada semua pihak yang membantu kami sampai ke sana, walaupun hanya beberapa orang yang mensupport kami secara financial, tidak ketinggalan kami pun berterima kasih kepada yang telah mensupport kami secara moral dan moril, itu juga tidak kalah membantu untuk kedepannya.

Politik?
Kami semua tidak mengerti dengan politik, tetapi kami tidak apatis, cuma tidak paham dengan politik saja, cuma kami meminta kepada sebagian pihak, jangan mempolitisir kami untuk menghantam Si A dan Si B. Apapun yang terjadi beberapa waktu lalu, kami tidak sakit hati dan kecewa. Kami pun kembalikan ke tujuan awal, hanya untuk memperkenalkan lebih jauh lagi tradisi kami di daerah ini. Dan yang salah itupun kami kok, tidak ada yang lain. Itu saja kok, tidak lebih, biar lah yang lebih itu dari Tuhan saja.

Sebenarnya, kami berencana untuk ke Melaka dengan 9 orang tim, dikarenakan ada suatu kendala, mulai dari pekerjaan, sekolah, dll, sehingga membuat kami hanya mengirim utusan 2 orang saja, yang kami nilai sangat layak untuk Go Internsional, Prengki Dandra dan Muhammad Ikhsan. Mereka bisa dikatakan musisinya Kota Sungai Penuh, kepada mereka berdua lah kami gantungkan harapan kami agar penampilan mengesankan selama festival berlangsung. Semesta pun mendukung, bereka berdua berhasil memukau para peserta lainnya yang datang dari berbagai dunia terpukai dengan hipnotis suling bambunya KOTA SUNGAI PENUH dan Gong Buleuhnya. Kami yang tidak ikutpun merasa sangat bangga sekali melihat video yang dikirimkan oleh mereka ketika berada di Melaka. hmmm. Begitu beratnya perjuangan kami untuk mencapai ke sana, akhirnya dibayarkan dengan kepuasan hati yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, walaupun banyak lika-liku yang membuat emosi yang terjadi keapda semua anggota, tetapi karena kecintaan kita terhadap Negri lah yang membuat sebuah benteng yang kokoh agar tetap kedepankan cita-cita kita.

Harapan Kami?
Tahun depan kami ingin tampil lagi dengan full team, dan berusaha membuat lebih meriah lagi dari pada tahun ini, kami pun berencana mempersiapkannya jauh-jauh hari lagi.
Kepada kawan-kawan yang belum bisa mempersembahkan yang terbaik, Semoga tetap semangat untuk tahun depan, selama nyawa masih dikandung badan, masih ada kesempatan untuk tetap berkarya, mari kita singsingkan lengan baju kita, tegakkan kepala untuk sebuah semangat bagi negeri, Kenapa kita harus takut kepada Matahari? Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya? Kenapa kita harus takut kepada hari hujan? Kita tidak harus menunggu hujan teduh untuk melajutkan perjalanan, kita tetap melangkah di tengah hujan, agar semua orang tidak bisa melihat kita menangis demi sebuah perjuangan.

Jangan lupa angkat topi untuk orang-orang yang telah mensupport kita, jangan pernah melupakan jasa mereka, baik yang secara moril dan finansial. Semoga Tuhan mencatat nama mereka dan di balas atas kebaikan mereka.

Credit Photo : Ee Robert

One thought on ““Gong Buleuh” Antara Cita, Cinta dan Harapan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *