Kenapa Harus ada “Sirih”??

Mungkin bagi yang tinggal di Pulau Sumatra atau yang lebih kecilnya Provinsi Jambi dan yang lebih kecil lagi di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh di setiap ada acara peresmian, penyambutan tamu selalu ada sirih yang disajikan atau diserahkan kepada Tamu Agung tersebut, pernah gak dalam pikiran kita apa sih maknanya? Saya pun sempat bertanya kenapa sih harus ada sirih di dalam cerano? yang nantinya diserahkan kepada tamu itu?

Karena saya penasaran, saya mencoba berbagai literasi yang menjelaskan tentang sirih di dalam upacara penyambutan tersebut. Ternyata dalam juga maknanya bagi saya orang awam, mungkin bagi para budayawan tidak. Sebelumnya saya juga meminta maaf jika di dalam penulisan saya terdapat kekeliruan saat menyimpulkan hasil yang saya dapatkan, maklum saja background pendidikan saya juga bukan kebudayaan.

Sirih selain digunakan sebagai tumbuhan untuk seremonial, . Sirih juga termasuk kedalam tumbuhan obat-oabatan (fitofarmaka). Menurut informasinya sirih merupakan tumbuhan khas Kepulauan Riau. Dimana negeri ini dikenal dengan sebutan “Berpancang Amanah Bersauh Marwah’ ini sangat menjunjung tinggi budaya upacara makan sirih khususnya saat upacara penyambutan tamu yang berkunjung.

Selain itu ternyata daun sirih mempunyai filosofi yang cukup menarik karena daun sirih berbentuk simbol hati. Simbol hati adalah simbol yang sejak lama digunakan untuk menunjukkan spiritualitas, emosi, moral. Pada masa lalu hati juga sebagai pusat kecerdasan manusia.

Dalam seni dan cerita rakyat tradisional Eropa, simbol hati biasanya berwarna merah. Warna ini melambang darah dan di beberapa negara warna merah ini melambangkan semangat, hasrat, dan emosi yang kuat.

Kemudian, daun sirih merupakan salah satu daun tumbuhan yang mudah disusun. Meskipun ujung daun runcing, tapi sejauh yang kami ketahui, belum ada yang tergores dibuatnya. Runcing tapi lembut, lancip tapi tidak melukai.

Disamping daun pemersatu, sirih adalah lambang cinta kasih. Misalnya saja dalam masyarakat Melayu, selain untuk menyambut tamu, sirih selalu tampil dalam upacara, merisik, meminang, pernikahan, dan berbagai upacara lain.

Salah satu alasannya, menurut orang Melayu, daun sirih yang berbentuk pipih ini merepresentasikan sifat rendah hati, suka memberi, juga senang memuliakan orang lain. Makna ini ditafsirkan dari cara hidup sirih yang tumbuh merambat, tapi bukan benalu atau parasit.

Terus apa hubungannya dengan penyambutan tamu? jika melihat dari cerita di atas dapat diketahui bahwa sirih adalah lambang kehormatan di sematkan kepada tamu agung yang datang, bisa juga agar tamu agung tersebut melambangkan kehormatan dan rendah diri, baik itu dari Tamu Agung atau yang memberi.

Karena bagusnya filosofi daun sirih ini lah, sangat menarik sekali ketika kita dikasih daun sirih ketika berkunjung, paling tidak kita menjadi tamu agung di waktu itu. Bagi para tamu juga diwajibkan untuk mengunyah sirih dengan pinang tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang mengundang. Jadi ada hubungan timbal balik diantara si pengundang dan yang diundang tersebut.

Saya rasa tidak di Sumatra saja sirih digunakan untuka acara ini, hampir seluruh Indonesia juga menggunakannya. Soalnya banyak upacara-upacara adat atau sermonial menggunakan ini.

Nah, apapun itu, berarti kita di Indonesia banyak kesamaan di samping perbedaan yang ada, jadi cocoklah kita Indonesia menjungjung tinggi nilai-nilai Ke-Bhinekaan kita, yang sudah menjadi landasan negara Indonesia. Jangan sampai terpecah oleh segelintir orang yang tidak ingin kita bersatu.

Leave a comment