Melaka, Miss you so bad

Hmmm, entah kenapa saya merasa jatuh cinta dengan Melaka, padahal sebelumnya saya tidak perah berpikir untuk menginjakan kaki di Negeri Jiran itu, kenapa? Ada banyak alasan yang sangat sulit untuk dikemukakan, salah satunya adalah jati diri sebagai bangsa Indonesia. Hahaha, Bukannya sok nasionalis, tetapi itu dulu, seiring perubahan waktu dan situasi politik di hati prasangka itu hilang seketika.

Saya cukup banyak berterima kasih kepada kerabat saya yang berasal dari Malang, Any Meilia Shofa, dialah yang menyadarkan saya bahwa Malaysia tidak seperti yang digambarkan di Tanah Air, mungkin saja ada tapi hanya segelintir orang saja, itu oknumnya. Ya, Meilia jua lah yang mengajak saya ke Melaka pada awalnya. Untuk menyaksikan dia perform di Melaka Art Festival, yang saat itu digelar di Bukit St. Paul Melaka dan beberapa area di sekitarnya, sebut saja Famosa.

Ada banyak hal menarik selama berada di Melaka, memang sedikit lucu, misalnya saja ketika para pedagang yang bertanya kepada saya, asal dari mana? Saya jawab Sumatra, dan para pedagang langsung senang hatinya, karena merasa satu rumpun dengan Sumatra sehingga dia bercerita banyak tentang kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, khususnya Sumatra, terlebih Kerajaan Pagaruyung yang berada di Batusangkar, Sumatra Barat.

Mesjid di pinggir laut pun begitu mempesona ketika berkunjung ke Melaka atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mesjid Terapung. Ada cerita menarik ketiak disana, ketika saya dan 2 orang teman hendak pulang ke penginapan, kami tidak dapat taxi, karena kebetulan hp kami bertiga habis baterai. Saya pun memberanikan diri bertanya kepada Pedagang di sana, bagaimana cara nya kami berjalan kaki ke Penginapan? Mak Cik pun menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke penginapan, tetapi selepas dia berdagang hehehe, Alhamdulillah sejak saat itu, kami pun sering berkirim pesan via WA. Semoga Mak Cik sehat selalu ya. Amin

Masjid ini bisa juga menjadi alternatif wisata religi ketika berkunjung ke Melaka. Mesjid ini bernama “Masjid Selat Melaka”. Salah satu tujuan wisata religi yang banyak dikunjungi mulai dari wisatawan umum hingga para fotografer dari berbagai negara di dunia. Keunikan masjid ini terletak pada bangunannya yang dibuat di pinggir pantai sebuah pulau buatan bernama Melaka sehingga saat pasang menghadirkan sensasi masjid yang seolah terapung di tengah lautan.  Apalagi jika bagi para pecinta photography, direkomendasi untuk datang pada waktu senja dan malam hari, karena sangat indah cahaya ketika ditangkap dengan camera. Upsss, Jika anda Muslim, jangan hanya sekedar mengambil gambar saja, sempatkan lah sholat di sana, rasakan pengalaman sholat di Mesjid Terapung ini.

Bukit St. Paul pun begitu sangat menarik perhatian saya, karena ada gereja tua yang sudah tidak dipakai lagi, Tetapi sekarang dipakai untuk pariwisata di Melaka, begitu banyak yang berkunjung ke lokasi ini. Nah, kebetulan di tempat ini juga pergelaran MAP (Melaka Art and Performance) Festival di gelar. Di sekitar lokasi ini pun banyak yang berjualan, juga ada pelukis di sana yang mengais rezeki karena sakingnya banyak pengunjung ke sini.

Jika kita turun ke bawah juga terdapat Gereja Merah di Melaka. Tidak jauh dari lokasi ini, gereja ini bernama “Christ Church Melaka” dan sampai sekarang masih beroperasi. Konon Gereja ini dibangun pada abad ke-18 dan gereja ini merupakan Gereja Protestant tertua di Malaysia. Gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur Belanda yang ditata dalam sebuah persegi panjang sederhana berukuran 82 kaki (25 m) kali 42 kaki (13 m). Langit-langitnya menjulang setinggi 40 kaki (12 m) dan dibentangi oleh balok kayu, masing-masing dipotong dari satu pohon. Atapnya ditutupi dengan ubin Belanda dan dindingnya dibangun menggunakan bata Belanda yang dibuat dengan balok laterit lokal yang kemudian dilapisi dengan plester Tiongkok. Lantai gereja ditutupi dengan balok granit yang semula digunakan sebagai pemberat kapal dagang ketika masa kolonial dulu.

Hmmm. Masih banyak sekali yang ingin dituliskan tentang Melaka, jujur saya ingin kembali lagi kesana suatu saat nanti. Karena Melaka selalu membuat saya rindu akan suasananya serta keramahannya. Walalupun di Bandara KLIA petugas imigrasinya tidak begitu ramah. hehehe. Apapun itu, saya tetap rindu dengan Melaka. Titip Rindu Melaka.

 

Leave a comment