Sekelumit kisah Kota Malang (Part 2)

Tidak seperti di perkampungan. Mudah mengidentifikasi kalau pagi sudah datang. Hanya mendengar suara ayam berkokok berseteru. Di penginapan, semuanya masih tetap sama. Gelap. Hanya ada seberkas cahaya bohlam lampu yang terpasang seperti di sebuah kandang ayam. Untuk melihat hari sudah pagi atau belum, hanya melihat jam tangan atau jam yang ada di layar gadget.
Pagi itu aku berencana mengelilingi kota Malang, lalu menuju destinasi yang ingin aku hampiri. Hari itu aku juga masih ditemani oleh guideku. Dia akan menemaniku hingga aku kembali meninggalkan kota Malang. Dia baik sekali bukan? Mau mengantarku kemana-mana tanpa biaya.
Pukul 7 pagi guideku sudah nongkrong di epan penginapanku. Aku segera meluncur keluar dengan tas ranselku. Lalu kami langsung berkompromi untuk pindah penginapan. Selesai berkompromi kami segera bergegas, karena lagi-lagi aku diburu waktu. Sebelum pergi mencari tempat penginapan seperti kost harian atau apapun itu namanya, Kami memutuskan untuk bertolak mencari makan (sarapan pagi). Sepanjang perjalanan aku memperhatikan kota Malang sangat jarang penjual sarapan. sampai akhirnya kami berhenti di sebuah tempat makan ayam geprek. Jarang bukan orang sarapan ayam geperk?, ini maknaan cocoknya untuk makan siang atau malam. Tapi di tempat itu, bahkan ramai pembeli. Sayangnya aku lupa untuk mendokumentasikannya. Pikiranku terfokus ke perut dan tempat singgah akan kemana. Tempat makan ini tidak jauh dari kampus UIN Malang. Satu porsi ayam geprek hanya seharga 9.000 plus teh manis 3.000, masih tergolong murah. Rupanya, kampus di Malang sedang libur, itu yang menyebabkan tidak ada yang berjualan sarapan berjejer sepanjang jalan.
Tak jauh dari tempat makan itu, ada kost-kost harian yang masih tersedia. Tanpa pikir panjang, kamipun ke sana selepas makan ayam geprek. Tiba di tempat kost-kostan, aku melihat situasi dan tempatnya. Meski hanya satu malam, aku butuh tempat istirahat yang nyaman. Dan tempat itu, masih jauh dari kata nyaman menurutku meski lebih baik dari tempat sebelumnya. Aku sampaikan kepada guideku untuk mencari yang lain. Dia langsung menyetujui.
Akhirnya, kami memutuskan untuk ke tempat kerja guideku. Untuk menyimpan tas ranselku yang sangat memberatkan punggung. Setidaknya aku tidak harus memikul beban yang teramat ketika menuju destinasi. Sambil berjalan memikrkan tempat penginapan.
Tiba di tempat kerja guideku, aku kira hanya menyimpan tas lalu pergi. Tidak, aku harus menunggu dia memberi makan kucing yang ada di kantornya. Sekaligus kembali membuka aplikasi online untuk memesan kamar. Tak lama, penginapanpun dapat. Kucing kecil selesai diberi makan, dan tas ranselku sudah tersimpan di dalam ruangan. Kamipun bergegas pergi ke destinasi yang ingin aku kunjungi. Masjid tiban dan pantai Balekambang.
Masjid tiban terletak di jalan KH. Wahid Hasyim Gang Anggur No.10 RT 07/RW 06 Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Malang Jawa Timur. Dari kota Malang meuju tempat ini kurang lebih satu jam perjalanan menggunakan sepeda motor.
Konon masjid ini di bangun oleh pasukan jin. Percaya atau tidak tapi itulah rumor yang beredar. Aku pribadi sangat takjub dengan kemegahan Masjid ini. Waktuku terbatas, aku tak bisa berlama-lama di tempat ini. Hanya mengambil beberapa gambar dan fikiranku selalu berkata. “Maasya Allah, Keren, takjub, ko bisa?” dindingnya begitu apik dengan ukiran kaligrafi arab. Bahkan di dalamnya terdapat goa aquarium yang terdapat berbagai macam ikan.
Akalku bertanya-tanya. Manusia mana yang bisa setakjub membangun masjid begitu mewah dengan ukiran yang begitu telaten. Indah dan penuh misteri. Terlebih karena aku pernah belajar sedikit tentang ilmu pembangunan, fikirku melayang kedalam sebuah gambar desain lengkap dengan hitungan kekuatan dan anggaran biayanya. Dan, tak bisa aku bayangkan gambar desain denah berikut detail-detail gambarnya.

Sebenarnya aku ingin melakukan wawancara atau diam lebih lama lagi di tempat itu. Namun lagi-lagi masalah waktu. Aku harus segera bergegas menuju Balekambang agar tidak terlalu larut selesai dari sana.
Balekambang beach, tiket masuknya untuk dua pantai sekaligus. Balekambang dan Regen. Tiket masuknya sebesar 7.500/orang, karena dua pantai jadi 15.000/orang. Pantai ini suka muncul di iklan salah satu tv nasional indosiar. Beberapa waktu lalu aku melihatnya.
Namanya pantai, pasti hanya terdapat hamparan air luas lengkap dengan warung-warung makanan dan oleh-oleh di sekitarnya. Namun, aku menemukan sesuatu yang unik di pantai ini, ada tulisan pohon jodoh. Pohon itu membentuk segitiga karena ujung pohonnya yang saling menyatu.


Aku tak tau persis kenapa ini disebut pohon jodoh, karena lagi-lagi masalah waktu, aku tak sempat mengobrol dengan penduduk sekitar dan yang lainnya. Di pantai ini juga terdapat pura kecil di atas pulau batu.
Dipantai ini juga, kami menyantap makan siang dengan menu nasi pecel telor. Selesai makan barulah kami berjalan-jalan ke tepi pantai. Sayangnya, alam sedang tidak bersahabat kala itu. Matahari rupanya malu terhadapku, sehingga dia membiarkan mendung menyelimuti dan rintik hujan turun cukup deras. Ombak di pantai ini cukup besar, terpampag jelas dilarang mandi di sana. Tapi, tetap saja banyak yang nekat.


Hari sudah semakin gelap, kamipun bergegas pulang menuju tempat penginapanku. Dan benar penginapanku kali ini jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dengan harga yang cukup murah, hanua 65.000 satu malam sudah free wifi dan tidur nyaman.
Oh ya, ada yang unik yang belum aku kisahkan sebelumnya tentang Malang. Kali in aku menyoroti sisi jalan raya kota ini. Di kota malang, banyak persimpangan yang tidak dipasang rambu lalu lintas seperti lampu merah atau hanya sekedar kaca cembung jalanan. Ini membuatku was-was jika bertemu dengan persimpangan. Jika kalian berkendara di Malang, saranku hati-hati dan jangan melamun. Terlebih jika belum lihai berkendara. Menggunakan kendaraan umum sekitar lebih aman dan nyaman. Karena setidaknya mereka sudah paham dengan situasi dan kondisi jalanan kota Malang.
Rasanya memang sangat kurang jika kita berkunjung hanya dua hari di Malang. Masih banyak tempat yang bisa kita kunjungi. Seperti wisata batu, jatim park 1,2 dan 3. Dan tentu masih banyak yang lainnya.
29 Desember 2019 pukul 19.000 aku harus kembali ke tanah kelahiranku, Cirebon. Sebelum bertolak, aku diajak oleh guideku pergi ke alun-alun kota batu dan menyantap makan siang di sana. Karena itu hari ahad, suasananya begitu ramai. Kami makan di dalah satu pujasera yang terdapat di sana.
Terimakasih Malang, sudah memberikan kisah sedikit dalam hidupku. Bahagia bisa mengunjungimu, terlebih banyak masjid megah yang kau suguhkan. Adem aku melihatnya. Jika kita berjodoh, mungkin lain waktu kita berjumpa kembali. Menoreh kisah yang lebih menarik dari ini.

Leave a comment