Corona, Wabah, Kebencian dan Sampah Luar Angkasa

Beberapa waktu belakangan ini kita dihadapkan dengan Virus yang terkenal dengan nama Covid-19 atau yang lebih akrab dengan sebutan Corona.

Takut? iya pasti karena virus ini hampir semua negara dihinggapi oleh wabah virus Corona ini. Apalagi jika kita melihat statistik penyeberannya sangat menakutkan sekali. Tetapi saya tidak akan membahas terlalu jauh tentang virus ini karena saya bukan lah seorang ahli virus apalagi untuk share tentang pemberatasannya. Karena sampai sekarang saya pun masih bingung dengan Virus ini dan cara pemberantasannya. Karena saking banyaknya Ahli yang berpendapat.

Salah satu sumber dari website lingkungan, corona itu datang dari hilangnya sebagian hutan yang dibabat demi kepentingan pribadi sehingga membuat rusaknya ekosistem dari hewan, nah Salah siapa? Juga asap-asap pabrik, itu sih kata website itu bukan kata saya, karena saya bukan siapa-siapa, apalagi ahli.

Simpel saja kalau kita mau kait-kaitkan dengan para ahli, yang katanya Virus Corona ini akan mati jika kena panas matahari dan alkohol, nah kenapa kita atau yang terinfeksi disuruh berjemur dan minum alkohol saja? Aneh kan pikiran saya sebagai orang awam, ya itulah mengapa saya tidak bisa menerka tentang corona ini. Yang jelas mari kita ikuti saja saran pemerintah kita, walaupun dikatakan terlambat.

Baik kita sambung lagi. Pernah kah kalian tau bahwa perkataan sebagian dari doa? Masih ingatkan dengan Pilpres kemaren? Ada berapa banyak kita semua yang mendoakan bahwa kita terkena azab dari Sang Maha Kuasa? Yang selalu berpikir tentang kezholiman pemimpin? Di sini saya bukan tim Sukses atau pun simpatisan salah satu kontestan Pilres yang lalu. Karena siapa kan saya? Orang yang tidak penting dan tidak bisa mempengaruhi masyarakat untuk pilihan. Tetapi saya sangat membenci jika ada yang menghujat dan meminta agar Tuhan segara menurunkan azab di negeri ini sebagai bentuk protes terhadap sesuatu. Masih ingatkan doa2 itu?

Kita tidak tahu doa siapa yang dikabulkan, yang jelas sangat banyak sekali yang berdoa seperti itu, bahkan di saat sekarang, ketika doa tersebut telah dikabulkan, kita juga tidak bisa bersatu karena masih mengedepankan ego masing-masing, bahkan masker dan handsanitizer saja diborong habis dan harganya pun hampir sama beli emas, sudah terbayangkan mahalnya berapa? Apa itu yang dinamakan kita menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan? Bisa kah kita stop dulu rivalitas yang lalu demi bangsa ini? Yang ikut kontesasi aja sekarang bergabung, kenapa kita tidak? Ayo lah kita sama-sama intropeksi diri masing-masing untuk tidak lagi saling menghujat apalagi bawa-bawa politik, Agama, Sara dan Golongan.

Ah, percuma saja jika berbicara saya Indonesia, Saya Pancasila, kalau masih saja saling menghujat, Negara lain sudah memikirkan masa depan, masa negara kita masih sibuk menghujat, saling merasa paling benar dalam beragama, serasa panitia hari akhir saja, bisa menentukan siapa yang masuk surga dan neraka.

Untuk para pemangku jabatan juga, jangan ajarkan kami lagi saling menghujat, melihat tingkah bapak-bapak terhormat di Televisi membuat kami ikut lo menghujat satu sama lain, bahkan sebagian dari kami ada yang membentuk barisan tersendiri yang ingin masuk surga bahkan ada yang memilih jalan lain, Apa belum puas pak/buk? Coba lah jika di undang ke televisi gak usah  debat sampai emosi gitu, banyak lo yang nontonnya. Kami tau debat tersebut belum tentu menghasilkan sebuah solusi yang baik bagi kami rakyat jelata ini.

Oh ya pak, kami rindu lo jika bapak dan ibu yang di atas sana turun membagikan kami masker dan handsanitizer, walaupun bergambar organisasi bapak, jangan pas ada kepentingan saja turun pak, atau kita bertemu lagi 5 tahun ke depan? Baik kami tunggu pak, kami WFH juga pak, Work From Here, walaupun tabungan kami sudah menipis, maklumlah pak, pendapatan kami tidak rutin lo.

Balik lagi ke Corona, Corona menuntut dan mengajarkan kita untuk bisa bersih diri, hati maupun pikiran, begitukan kata para ahli? Kata Ahli pun juga kita berpikiran positif Virus itu pun susah masuknya, betul gak ya? Setelah bersih diri kita dengan anjuran dari ahli kesehatan, saatnya kita bersih Sampah-sampah yang di kepala, untuk tidak saling menghujat di medsos? Apa semuanya bangga dengan perdebatan yang berujung dengan penghujatan satu sama lainnya? Entahlah silahkan kalian bertanya saja kepada diri masing-masing termasuk saya. Setelag itu mari bersih hati dengan menyerahkan semuanya kepada yang maha kuasa.

Oh y, ingat gak dengan ucapan Ibnu Sina (Avicena) Delusi adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah setengah dari obat, Kesabaran adalah awal dari penyembuhan.

Nah, dari sana mari jangan menghujat apalagi menyudutkan ras yang membuat syahwat hujat kita naik. Tolonglah bersabar dalam bermedia, kalau tidak suka bisa ditinggalkan tanpa menghujat. Mari semuanya dengan wabah ini kita jadikan sebagai intropeksi diri masing2, menjadikan persatuan, dan paling utama mari selesaikan bersama-sama dendam kepada Pilres yang membuat kita terpecah belah selama ini. Dan jangan berdoa yang macam-macam lagi ya, minta diturukan musibah kepada Sang Pencipta. Hilangkan Cebong dan kampret lagi. Virus itu sebenarnya lebih berbahaya. Saya sangat yakin doa itu mustajab, dan kita pun tidak tau doa siapa yang mustajab, mungkin dari sekian banyak doa, ada si pendoa yang mustajab, Nah terbuktikan?

Bagaimana? masih mau menebar kebencian dan berdoa yang tidak baik lagi? Silahkan

Note : gambar hanya pemanis saja

Leave a comment