Awal Kemunculan Aliran Kejawen di Kerinci

Saya akan sedikit menggambarkan tentang awal kemunculan salah satu aliran Kejawen (Sapta Darma) di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, dimana ini adalah sebagian dari isi buku saya bersama seorang teman yang bernama Dian Riskinata.

Pada tanggal 19 dan 20 Agustus 1955 di Semarang diadakan Kongres dari berpuluh-puluh budaya Kebatinan (Kejawen) yang ada di berbagai daerah di Jawa, dengan tujuan untuk mempersatukan semua organisasi yang ada pada waktu itu. Kongres berikutnya diadakan pada tanggal 7 Agustus 1956 di Surakarta sebagai lanjutannya, yang dihadiri oleh lebih dari 2.000 peserta mewakili 100 organisasi kebatinan. Pertemuan-pertemuan itu berhasil mendirikan suatu organisasi kebatinan bernama Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI), yang kemudian juga menyelenggarakan dua kongres serta seminar mengenai masalah kebatinan dalam tahun 1959, 1961 dan 1962.[1]

Perkembangan selanjutnya mengenai organisasi-organisasi kebatinan yang ada di pulau Jawa tersebut dikelompokkan menjadi 5 kelompok yang terbesar yakni Hardapusara yang berasal dari Purworejo. Susila Budi Darma (SUBUD) berasal dari Semarang. Ngestu Tunggal (Pangestu) berasal dari Surakarta. Paguyuban Sumarah dari Yogyakarta dan Sapta Darma dari Pare, Kediri Jawa Timur. Dari lima aliran kebatinan terbesar di Indonesia ini penulis melihat ada satu aliran yang merupakan Aliran Kebatinan yang termuda dan berkembang juga di Kecamatan kayu Aro, Kabupaten Kerinci dan beraktifitas Kerohanian di Desa Mekar Jaya.

Sapta Darma yang ada di Kerinci merupakan Aliran yang telah ada sejak tahun 1967. Sejarah munculnya Aliran Kerohanian Sapta Darma ini memiliki sejarah yang cuku panjang. Diketahui bahwa para transmigrasi dari pulau jawa dan sebagian para perantau dari pulau jawa yang bermukim atau menetap di Kecamatan Kayu Aro, merupakan orang-orang yang menyebar luaskan serta mengembangkan Ajaran Sapta Darma di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci. Pulau Sumatera sendiri selain di daerah Kerinci Kecamatan Kayu Aro terdapat juga Persada (Persatuan Sapta Darma) di daerah Sumatera lainnya yakni di Medan, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Dalam pelaksanaannya Kerohanian serta kegiatan Keorganisasiannya. Sapta darma yang ada di kabupaten Kerinci Kecamatan Kayu Aro ini sama dengan aliran Sapta Darma yang ada di Pulau Jawa.[2]

Sapta Darma yang ada di Kabupaten Kerinci tepatnya di Kecamatan Kayu Aro Desa Mekar Jaya masih menjalin dan terikat erat dengan Kepengurusan Pusat Sapta Darma dan tergabung dalam Sapta Darma Indonesia yang berpusat kegiatan di Yogyakarta. Hal ini terlihat dibeberapa acara Kerohanian yang diselenggarakan di Yogyakarta yang sering diikuti oleh para anggota dan pengurus Sapta Darma yang ada di Kabupatem Kerinci Kecamatan Kayu Aro itu sendiri.

Keberadaan Sapta Darma di Kecamatan Kayu Aro itu sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 1967. Namun hal ini belum mendapat perhatian dari masyarakat atau pemerintah setempat di karenakan Sapta Darma pada masa itu masih hanya aliran yang dianut oleh perorangan dan belum berbentuk organisasi atau persatuan sehingga tidak sedikit masyarakat yang belum tertarik dengan alliran kejawen ini. Dengan perkembangan tahun maka para penganut aliran ini kemudian bersatu untuk membentuk suatu organisasi bagi penghayat Aliran Sapta Darma.[3]

Perkembangan  Sapta Darma di Kecamatan  Kayu Aro tidak terlepas dari kedatangan para transmigrasi yang berasal dari Pulau Jawa, para penghayat Aliran Sapta Darma yang ada di Kecamatan Kayu Aro sendiri awalnya belum berbentuk organisasi atau Persada seperti saat ini, melainkan hanya perorangan. Dengan berjalannya waktu secara tidak langsung mereka saling bertemu satu sama lainnya dan kemudian ada gagasan atau pendapat dari beberapa tokoh seperti Alm. Mbah Sugiren dan Alm. Mbah Sipor agar para pengikut Aliran ini dinaungi dalam satu wadah yaitu Persada Persatuan Sapta Darma sesuai dengan surat Kakandepdikna Kabupaten Kerinci Nomor : 6067/I.10/23/KS-2000

Sapta Darma yang ada di Kecamatan Kayu Aro tepatnya di Desa Mekar Jaya tidak ada perbedaan yang signifikan dengan Sapta Darma yang ada di Yogyakarta atau daerah jawa lainnya. Hal ini dikarenakan Persatuan Penghayat Sapta Darma sendiri selalu menjaga hubungan baik antar anggotanya. Baik Sapta Darma yang ada di Sumatera atau di Jawa tetap berhubungan baik hingga saat ini. Jadi tidak ada perubahan atau perbedaan mengenai ajarannya. Sapta Darma sendiri tidak pernah membatasi atau menutup diri bagi siapapun untuk dapat bergabung menjadi anggota Sapta Darma.

Aliran Sapta Darma yang ada di Kecamatan Kayu Aro merupakan aliran kejawen yang sama dengan Aliran yang ada di Pulau Jawa. Hal ini dapat dilihat dari sejarahnya serta perkembangannya sendiri, menurut Bapak Juadi aliran Sapta Darma yang ada di Kecamatan Kayu Aro bahwasanya Sapta Darma yang ada di Desa Mekar Jaya Kecamatan Kayu Aro tersebut memiliki hubungan yang baik dengan Sapta Darma yang ada di Yogyakarta dimana Kota Yogyakarta merupakan pusat kegiatan kerohanian ini.

Sekitar Tahun 1967 keberadaan Aliran Sapta Darma ini sudah ada di Kecamatan Kayu Aro. Namun, belum mendapat tempat dihati masyarakat sekitarnya hanya beberapa orang saja yang menjalankan kegiatan kerohanian tersebut. Perjalanan dan perkembangan penghayat Sapta Darma ini cukup panjang dan lama “Jare Uwong-uwong tuwo, y owes sui Sapta Darma neng kene”. Maksudnya kata orang-orang tua, ya sudah lama Sapta Darma disini, kata Bapak Juadi salah satu penghayat serta sekretaris Persada (Persatuan Sapta Darma) di Kecamatan Kayu Aro Kabupaten Kerinci.[4]

Sebenarnya ajaran Sapta Darma yang ada di Kecamatan Kayu Aro, menurut para orang-orang tua sudah menjalankan ajaran Sapta Darma ini sejak dahulu sekitar tahun 1960-1970 para pengikut Sapta Darma ini tersebar di berbagai desa yang ada di Kecamatan Kayu Aro diantaranya : Desa Kersik Tua, Desa Bedeng Dua, Desa Gunung Labu, Desa Sako Dua, Desa Patok Empat, Desa Batu Hampar, Desa Batang Sangir. Dilihat dari nama-nama desa tersebut keberadaan Sapta Darma sendiri sebenarnya sudah ada dan berkembang hamper di setiap Desa yang ada di Kecamatan Kayu Aro. Namun, para pengikut Aliran Sapta Darma yang ada hampir di setiap desa tersebut belum memiliki wadah atau tempat untuk melakukan kegiatan kerohanian secara maksimal. Sehingga muncullah sebuah gagasan dari beberapa anggota pengikut Aliran Kejawen Sapta Darma ini agar mengumpulkan dan membentuk sebuah organisasi kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengumpulkan para penghayat Aliran Sapta Darma Tersebut[5]

Awal perkembangan organisasi Penghayat Sapta Darma ini belum mendapat respon yang begitu serius dari anggota-anggota lainnya. Namun dengan berjalannya waktu maka pada tahun 2001 barulah muncul gagasan dari Alm. Mbah Sagirin dan Alm. Mbah Sipor agar para pengikut aliran ini dinauingi dalam satu wadah yaitu Persada (Persatuan Sapta Darma) hal ini sesuai dengan surat Kakandepdiknas Kabupaten Kerinci nomor : 6067/I.10/23/KS-2000. Dengan dikeluarkannya surat keputusan tersebut maka aliran Kejawen Sapta Darma ini tetap eksis dan dikenal oleh masyarakat sekitar Kecamatan Kayu Aro khususnya Desa Mekar Jaya.

[1] Heny Gustini.dkk 2012. Studi Budaya di Indonesia. Bandung : Pustaka Setia. Halaman 200-201.

[2] Wawancara dengan Bpk. Juadi, 42 Tahun. Sebagai Sekretaris Persada (Persatuan Aliran Sapta Darma) Pada tanggal 23 Maret 2015

[3] Wawancara dengan Bapak Juadi, 42 tahun, sebagai sekretaris

[4] Wawancara dengan Bapak Juadi

[5] Wawancara dengan Bpk. Rasiman

Leave a comment