Hilangnya Nilai Kearifan Lokal di Kehidupan Sekarang

Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat besar dan memiliki keberagaman budaya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, mulai dari bahasa, adat istiadat, suku, tarian daerah, lagu dan masih banyak lagi yang mempunyai ciri khas daerah itu sendiri yang membuat kita bangga akan keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

Indonesia juga dikenal akan keramahannya pada beberapa dekade belakangan ini, prediket itu dilontarkan sendiri oleh negara yang telah melakukan kunjungan ke Indonesia, karena mereka merasakan sendiri begitu ramah nya penduduk Indonesia dan itu hampir di seluruh daerah Indonesia. namun sekarang prediket itu sudah mulai hilang di kikis oleh kemajuan zaman dan tekhnologi.

Sebagai salah satu contoh, dulu jika kita berkumpul bersama keluarga asyik dan menikmati waktu kebersamaan dengan cerita dan cengkrama, jika dibandingkan sekarang ketika kita berkumpul, kita sibuk dengan gadget masing-masing sehingga kurang bahkan tidak terjadi interaksi secara personal. Memang kita tidak bias pungkiri bahwa dengan kemajuan zaman membuka cakrawala pengetahuan kita yang membuat kita mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.

Nah, sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan kebudayaan, seharusnya tetap menjaga itu semua walaupun kita mengikuti perkembangan zaman,

Ada satu istilah yang mengatakan sekarang ini, dunia luar mempunyai waktu untuk menciptakan tekhnologi, sedangkan bangsa Indonesia mempunyai waktu untuk menikmati semua tekhnologi ciptaan mereka. Sementara mereka yang menciptakan tidak terlalu menghabiskan waktunya di dunia maya tersebut. Bahkan yang lebih miris kita lebih banyak menghabiskan waktu serta membagikan berita hoax yang bisa mengakibatkan perpecahaan di dalam bangsa Indonesia yang tercinta. Apalagi sekarang kita sering diadu dengan isu SARA, yang kalau kita kaji, SARA itulah yang membuat kita bersatu pada waktu dulu yang berhasil memerdekan Indonesia, baik itu dimulai dari ikrar Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 baru diikuti dengan Proklamsi.

Melalui media sosial pun kita sekarang sering mengeluarkan keluh kesah, menceritakan hal yang tidak penting, mempublikasikan sebuah postingan yang padahal itu bisa mengakibatkan kesombongan diri, mulai dari kita beribadah, membantu orang lain yang sedang kesusahan hanya demi mendapat sebuah pujian sebagai malaikat penolong walaupun tidak demikian kenyataanya.

Apa kaitannya fenomena ini dengan kearifan lokal?

Apa kita bisa menyiapkan kelapangan dada untuk menerima perdedaan seperti yang dilakukan para pahlawan kita demi kemajuan dan persatuan kesatuan bangsa? Memang  tidak gampang untuk saat sekarang  ini, tetapi ingatlah perbedaan tidak bisa kan bisa bersatu tetapi akan sangat bisa untuk berdampingan dengan tidak saling menyakiti satu sama lainnya.

Leave a comment