Sekelumit kisah Kota Malang (Part 1)

Pagi itu, mentari bersinar seperti biasanya. Membuat menyeringai jika menghadapnya langsung. Awal dari sebuah pertanda baik bagiku. Dia meridhoi perjalananku bertolak ke kota Malang. Kota Bakso, yang memang sangat khas (pecinta bakso pasti tau).

Akhir tahun 2019 yang mengesankan bagiku. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tepat di tanggal 26 Desember 2019 yang lalu perjalananku ke kota Malang dimulai. Jangan bertanya dengan siapa aku pergi. Aku pergi seorang diri ditemani tas ranselku bersama barang-barang bawaannya.

Matarmaja 292 adalah kereta yang aku tumpangi. Diperkirakan aku tiba di stasiun Sumber Pucung pukul 14.15. Tentu ini bukan stasiun pemberhentian terakhir, masih ada beberapa stasiun lagi hingga stasiun pemberhentian terakhir yaitu stasiun Malang. Ada sebuah kejadian yang menurutku sedikit nakal yang dilakukan oleh penumpang. Aku tidak begitu tau seketat apa penjagaan dalam kereta api. Aku hanya melakukan saran yang diberika oleh kawanku. Nakal sedikit katanya, coba turun di pemberhentian terakhir saja. Melakukan hal demikian tidak mudah bagiku, ada rasa was-was tak menentu. Bagaimana jika aku tiba-tiba di usir paksa petugas dan harus turun di stasiun yang antah berantah diwaktu sepagi itu.

Tapi, aku mencoba nekat. Aku pura-pura tertidur agar aku bisa turun di stasiun akhir. Dan ternyata, bisa!. Boleh kalian coba jika ingin menguji adrenalin. Misal kalian beli tiket kereta dengan pemberhentian A padahal seharusnya di B, kalian coba saja pura-pura tertidur, semoga berhasil.

Aku tiba di stasiun kota Malang puku 15.40 dini hari. Di sana sudah ada sahabat penaku yang menanti. Dia akan menjadi guideku selama 2 hari di Malang. Sambil menunggu sholat subuh, aku disambut dengan segelas teh hangat Pujasera yang terletak di depan staisun kota Malang bersama guideku.

Photo Stasiun
Photo Stasiun

Setelah itu, aku dan guideku beranjak ke sebuah masjid terdekat untuk melaksanakan shalat subuh. Masjid Jami’ alun-alun kota Malang. Masjid yang sangat nyaman bagi pelancong seperti saya. Bersih dan luas. Tidak hanya itu, selepas dzikir sholat dan kuliah subuh, seorang ibu paruh baya menghampiriku dengan membawa sebuah nampan. Membawakan air putih dan kueh hijau (aku tidak tau apa nama kueh itu). Rizki anak sholeha, begitu hiburku.

 

Matahari mulai menampakkan sinarnya di bumi arema, aku menatap sang surya itu. Merasakan hangatnya, menikmati udara bumi arema. Selepas dari masjid jami’, aku dan guideku berencana sarapan bertemu dengan sahabat pena di sebuah rumah makan. Hingga waktu sarapan itu tiba, aku menunggu di taman alun-alun. Di sana, aku disuguhkan dengan pemandangan yang tidak seperti biasanya. Terdapat puluhan ekor burung dara beterbangan kesana kemari. Beberapa warga ada yang memberikan makan burung dara itu. Tak lama, pengelola taman (mungkin) datang membawa makanan untuk sekian puluh burung dara. Dengan sigap, semua burung-burung itu turun ke lantai taman untuk menyantap sarapan pagi. Begitu apik, indah dipandang mata.

Selepas mereka sarapan, mereka terbang bergerombol mengeilingi taman, dengan begitu tertata rapih, seolah ada komando yang menyuruh mereka melakukan hal itu.


Tak lama, sahabat pena memberikan kabar kepada guideku. Kita sarapan di Malang pukul 08 lebih dikit. Sahabat penaku membawa kami sarapan ke Jl. Lombok. Nama sotonya juga soto lombok. Apakah ini makanan khas Malang? Jelas bukan. Kata sahabat penaku di Malang banyak makanan dari daerah manapun. Termasuk makanan Bali (tapi ini, aku belum survey. Jadi kebenarannya silahkan ukur sendiri).

Ada yang unik memang dari soto itu, di dalamnya terdapat beberapa irisan kentang rebus. Awalnya aku kira itu adalah sayuran yang berwarna putih mirip lobak atau sejenisnya mungkin. Tapi itu kentang.

Namanya juga Indonesia, makan karbo dengan karbo itu sudah biasa. Seperti soto lombok tadi. Jelas-jelas sudah ada nasi, ngapain ditambah kentang. Tapi itulah yang membedakan.


Selepas sarapan, kami berpisah dengan sahabat pena itu. Dia sudah ada agenda selanjutnya. Lantas bagaimana denganku? aku, ingin mengelilingi kota Malang.

Ternyata, guideku membawa ke sebuah tempat wisata. Sebuah kawasan rumah penduduk yang di sulap menjadi tempat wisata tepatnya. Ada kampung biru dan kampunt 3D letaknya bersebrangan. Hanya dipisahkan oleh jalan raya.

Aku hanya masuk ke salah satunya, yaitu kampung 3D. Tiket masuknya Rp.8000,- berdua, dan mendapatkan gantungan kunci. Di sana, kamu akan disuguhkan karya-karya guratan tangan manusia yang menempel di dinding-dinding rumah warga ata jalan menuju lokasinya. Ada jembatan kaca juga yang menghubungkan kampung satu dengan yang lain karena terpisah oleh sebuah kali.


Setelah melintasi jembatan kaca, ternyata ada penjual tiket lagi di bawahnya.kali ini dikasih sebuah stiker. Harganya sama, seperti awal masuk. Aku tidak begitu paham kenapa begitu banyak penjual tiket. Mungkin ada beberapa pintu masuk tapi entahlah. Oh ya, jembatan kacanya tidak full kaca kok, hanya ada di bagian tengah. Dan kacanya tidak begitu transparan. Jadi amanlah, tidak menakutkan.
Selepas dari kampung 3D, aku memutuskan untuk istirahat di sebuah penginapan backpacker yang aku pesan melalui salah satu aplikasi pemesanan hotel online.


Dan, taraaa. Aku mendapatkan sebuah surprise yang hampir membuat mulutku tak berhenti menganga.
Ada sedikit tips dan saran untuk kalian yang ingin memilih sebuah penginapan melalui aplikasi online.
1. Pastikan kalian tahu istilah, terkait penginapan backpacker berarti ini pasti tidak seperti hotel. Imajinasi kalian jangan terlalu tinggi.
2. Masih nyambung dengan poin pertama, kalian jangan mudah percaya dengan gambar yang tertera di aplikasi. Pastikan, itu real pict. Bukan hanya pemanis
3. Cek review dari pengguna yang pernah singgah di tempat itu.
4. Jika tempat itu dipesankan oleh kerabat, tetap harus cek ulang secara pribadi.
5. Jangan tergiur dengan harga yang sangat murah
Mungkin setidaknya itu.
Kenapa aku menganga? Karena saya tidak melakukan poin 1,2 dan 4, aku hanya melihat sekilas review pengguna yang cukup baik menurtuku. Tapi ternyata zonk!.
Penginapanku jauh dari ekpektasiku. Aku fikir backpacker itu single bad an ruang yang sangat terbatas. Tapi masih ada ruang privasi. Ternyata bukan!. Tempat penginapanku berupa sebuah ruangan yang tidak jauh dari pintu keluar jalan raya, terapat dua susun ranjang tidur yang ditutup sebuah tirai. Oh god!. Itu tempat sangat cocok untuk backpacker pria atau laki-laki atau jajaran kaumnya. Bukan untuk backpaker lawan jenisnya.
Kalian tau lah, bagaimana ribetnya perempuan atau jajaran kaumnya, terlebih jika mereka seorang muslimah. Tempat itu jauh dari kata nyaman.
Aku sudah membayar lunas dimuka untuk 2 malam di tempat itu. Terpaksa untuk hari itu aku stay, dengan kondisi harap-harap cemas. Jangankan untuk tidur dan bermimpi. Mata terpejam saja terasa ada ancaman yang siap menyergap.


bersambung y……………………..

This Post Has One Comment

  1. Avatar

    Jangan kapok kemari..

    Jangan kapok dengan berbagai kejutannya..

    Ini bumi arema, bumi singo edan 🤟🤟🤟

    Reply

Leave a comment